19-kebakaran-rumah-sakit-dan-regulasi-fire-protection-nfpa

Kebakaran Rumah Sakit dan Regulasi Fire Protection NFPA

Pada bulan September lalu, delapan bayi yang baru lahir meninggal ketika api membakar area bangsal bersalin sebuah rumah sakit di kota kecil El Oued, Aljazair. Penyebab kebakaran diperkirakan berasal dari alat pemukul nyamuk elektrik yang rusak. Ini adalah kali kedua kebakaran terjadi di area tersebut dalam 16 bulan terakhir.

Kebakaran bangsal bersalin adalah salah satu dari tiga kasus kebakaran rumah sakit mematikan. Hal ini yang menjadi berita utama secara internasional pada bulan September.

Kebakaran juga terjadi pada sebuah RSUD di Tanggerang. Disinyalir api muncul dari area gardu listrik di lantai 3 rumah sakit tersebut.

Meskipun tidak ada statistik komprehensif tentang jumlah kebakaran rumah sakit fatal yang terjadi secara global. Studi akademis dan laporan berita menunjukan bahwa kejadian ini sering terjadi di luar Amerika Serikat.

Para ahli mengatakan alasan utama di balik sering terjadinya kebakaran di rumah sakit disebabkan kurangnya penggunaan kode etik dan penegakannya pada rumah sakit di seluruh dunia.

Tapi segalanya bisa berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli mengatakan pendekatan baru untuk pengawasan rumah sakit dengan organisasi yang berbasis di Amerika Serikat seperti NFPA telah muncul di seluruh dunia.

“Kami melihat globalisasi ekonomi dan pemeliharaan kesehatan termasuk di dalamnya,” kata William Koffel, seorang insinyur fire protection NFPA. “Ada organisasi pemeliharaan kesehatan di negara lain yang menjangkau konsultan di AS karena mereka tertarik untuk memiliki fasilitas yang dioperasikan dan dikelola mirip dengan rumah sakit di AS,” katanya. 

“Ada juga sejumlah rumah sakit di luar AS yang sekarang dikelola oleh organisasi pemeliharaan kesehatan AS. Saya pikir kedua tren ini tentu memiliki potensi untuk tumbuh di masa depan.”

Belajar dari Kasus Kebakaran Rumah Sakit

Secara statistik, hampir tidak ada yang meninggal dalam kebakaran rumah sakit di AS. Dilansir dari laporan NFPA yang diterbitkan pada 2017. Dari 2011 hingga 2015. Rata-rata kurang dari satu kematian setiap tahun dalam kebakaran rumah sakit di AS.

Kurangnya keamanan gedung adalah yang menyebabkan tingginya angka kematian dalam kebakaran rumah sakit AS di masa lalu. Seperti kurangnya kompartemen untuk mencegah penyebaran asap dan tidak adanya sprinkle. Sebagian besar hal tersebut telah diperbaiki, kata Solomon. 

Juga, karena di AS telah muncul sistem penegakan kode etik yang kuat dan berlapis-lapis, sehingga membuat rumah sakit mematuhi kode etik dan standar modern yang mencakup NFPA 101®, Life Safety Code® dan NFPA 99, Health Facilities Facilities Code .

Bahkan menurut standar AS, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya harus tunduk pada proses penegakan hukum yang sangat ketat dibandingkan dengan jenis bangunan lain. Sehingga meningkatkan tingkat keselamatan yang ada di rumah-rumah sakit di AS saat ini.

“Sebuah gedung perkantoran, misalnya, bisa diperiksa setiap tahun atau lebih oleh personel pemadam kebakaran dari yurisdiksi lokal. Sedangkan pada fasilitas perawatan kesehatan, akan ada penegak yurisdiksi lokal dan agen dari negara yang datang untuk memberikan lisensi, validasi survei sebagai perwakilan Federal Centers for Medicare & Medicaid Services dan proses akreditasi.” kata Koffel.

Solomon mengatakan proses akreditasi rumah sakit pada dasarnya telah menjadi “entitas keempat” pengawasan rumah sakit di AS. Selain pengawasan dari lembaga lokal, pemerintah negara bagian dan federal. 

“Untuk tetap menjadi rumah sakit yang terakreditasi, ada organisasi swasta yang mengecek segalanya. Mulai dari pengendalian infeksi hingga aspek kebakaran dan keselamatan jiwa,” katanya. 

“Jika fasilitas tidak sesuai dengan kode etik dan standar yang berlaku, akreditasi rumah sakit tersebut terancam. Yang berarti perusahaan asuransi tidak akan membayar layanan perawatan di fasilitas itu. Atau pendanaan asuransi untuk perawatan pasien bisa jadi akan dicabut.

Para ahli mengatakan sistem pengawasan yang kuat dan berlapis-lapis seperti itu pada umumnya tidak ada di negara lain dan itulah masalah utamanya.

“Secara internasional, saya merasa tidak ada tingkat inspeksi yang sama dengan yang kita lihat di AS,” kata Koffel. “Dari pekerjaan yang telah kami lakukan dan fasilitas yang kami lihat di luar AS, tidak banyak waktu yang digunakan untuk memastikan kepatuhan terhadap kode etik dan cenderung tidak memiliki inspeksi yang berlapis.”

Apa yang Membedakan Fire Protection pada Rumah Sakit Internasional dengan yang di Amerika?

Salah satu cara memahami masalah kebakaran pada rumah sakit di luar AS adalah dengan memeriksa NFPA Fire & Life Safety Ecosystem. Sebuah kerangka kerja keselamatan yang terdiri dari delapan komponen yang harus berfungsi secara bersamaan agar efektif: 

  • Tanggung jawab pemerintah
  • Pengembangan dan penerapan kode etik
  • Standar rujukan
  • Investasi pada sistem keselamatan
  • Tenaga kerja terampil
  • Kepatuhan terhadap kode etik
  • Kesiapsiagaan dan tanggap darurat
  • Masyarakat publik yang sudah dibekali informasi

Kegagalan pada salah satu komponen tersebut dapat menyebabkan kebakaran hebat di rumah sakit dan area lainnya. Dalam kebakaran rumah sakit internasional, seringkali komponen yang terkait dengan konstruksi bangunan, kode etik dan standar, kesiapsiagaan dan manajemen darurat yang sering kali gagal.

“Tidak jarang kurangnya pemeliharaan sistem fire protection tertentu atau perubahan tata letak fasilitas tanpa pembaruan yang diperlukan pada desain sistem perlindungan kebakaran. Dan, kurangnya akuntabilitas untuk memastikan fasilitas yang sudah disetujui terus mematuhi kode etik.”

Para ahli mengatakan skenario serupa juga terjadi di rumah sakit secara global. Walaupun mungkin ada organisasi individu yang berencana untuk membangun fasilitas perawatan kesehatan di luar negeri menggunakan kode-kode seperti NFPA 101 dan NFPA 99.

Ada beberapa pemeriksaan dan pengetesan yang dilakukan di negara-negara ini. Hal ini untuk memastikan bahwa rincian tertentu tidak diabaikan selama proses konstruksi atau meninjau peraturan masih tetap ditaati seiring berjalannya waktu.

“Saya curiga, bahkan jika fasilitas tersebut mengikuti NFPA 99 dan NFPA 101, namun sistem dan peralatan tidak terpelihara dan persyaratan kode etik tidak ditegakkan dengan baik, baik selama konstruksi atau setelah rumah sakit beroperasi dan berjalan,” kata Rich Bielen. 

Contohnya, adalah kebakaran Rumah Sakit Umum Jazan di Arab Saudi pada 2015 yang menewaskan 25 orang. “RS itu dibangun menggunakan beberapa ketentuan mendasar dari NFPA 101, tapi ada kekurangan yang tidak dipenuhi dan akhirnya terbukti fatal.”

Koffel juga menunjuk faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kebakaran besar. Seperti kompartemen asap yang tidak memadai, plastik busa yang tertinggal setelah konstruksi, pompa kebakaran gagal berfungsi dengan baik dan kekacauan pada koridor.

Tetapi menerapkan kode dan standar AS berfungsi di beberapa fasilitas perawatan kesehatan internasional bisa jadi lebih sulit daripada kelihatannya.

Jason D’Antona, menjelaskan bagaimana AS menghabiskan puluhan tahun untuk membuat peraturan keselamatan berdasarkan tata letak rumah sakit. Yang didasarkan pada bagaimana perawatan klinis terbaik diberikan.

Di negara lain, jika model perawatan klinis berbeda, maka tata letak fasilitas ini juga bisa berbeda. Yang berarti Anda tidak bisa hanya menerapkan kode seperti NFPA 101 dan NFPA 99 tanpa membuat penyesuaian.

“Ini adalah sistem holistik,” kata D’Antona. “Di AS, tata letak sprinkler kami seperti itu karena unit klinis ditata seperti pada model perawatan klinis. Di mana ada gangguan jika Anda mencoba untuk menerapkan hal-hal kecil.”

Di beberapa negara paling maju di dunia, kurangnya kesadaran tampaknya ada di faktor kode etik dan standar yang mengatasi ancaman kebakaran dan keselamatan jiwa di fasilitas perawatan kesehatan.

Studi pada 2014 yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Anesthesia menemukan kasus di India. Di mana rumah sakit sering mengalami kebakaran yang diperburuk oleh udara yang kaya akan oksigen. 

National Fire Protection Association menerbitkan NFPA 53, [Praktek yang Direkomendasikan untuk Bahan, Peralatan, dan Sistem yang Digunakan di Atmosfer yang Diperkaya Oksigen], dan NFPA 99 mendata rekomendasi [untuk membatasi konsentrasi oksigen di udara pada rumah sakit]. Faktanya, sangat sedikit rumah sakit yang menyadari keberadaan kode etik dan standar internasional untuk penanganan [oksigen].

Mengatasi Permasalahan Fire Protection dan Kebakaran di Rumah Sakit

Sepertinya sistem keamanan kebakaran dan keselamatan jiwa di rumah sakit internasional telah membaik dengan adanya globalisasi perawatan kesehatan. Khususnya, keterlibatan organisasi yang berbasis di AS dalam fasilitas ini. 

Entah dengan membuka fasilitas rumah sakit AS di luar negeri atau memberikan mentoring, juga kontrak rumah sakit internasional dengan perusahaan konsultan fire protection AS. Meskipun tidak ada statistik yang membuktikan hal ini, tapi bukti anekdotal mendukung dan hampir semua orang yang diwawancarai untuk artikel ini mengatakan mereka telah melihat peningkatan dalam lima hingga 10 tahun terakhir.

Sekitar enam tahun yang lalu, Hamad Medical Corporation, grup rumah sakit terbesar di negara kecil Timur Tengah, Qatar, menjangkau dua perusahaan fire protection yang berpusat di AS. Guna meminta bantuan untuk meningkatkan sistem kebakaran dan keselamatan jiwa di fasilitas kesehatan mereka, kata Koffel.

“Kami mensurvei semua rumah sakit mereka dengan cara yang sama seperti melakukan survei rumah sakit di AS,” katanya. “Lalu kami mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan di rumah sakit AS. Caranya dengan mengidentifikasi semua masalah dan membuat rencana untuk perbaikan.”

Seperti contohnya di Rumah Sakit Sufina Aziz Medan yang mulai meningkatkan fire protection system yang mereka miliki. Dengan menambahkan fire alarm system pada bangunan mereka, membuat proteksi kebakaran semakin meningkat.

Maka jika terjadi kebakaran di area ini dapat dideteksi secara dini oleh fire alarm system. Dengan bantuan detector pada tiap ruangan maka kebakaran dapat dideteksi lebih mudah. Dan, tentunya korban jiwa dan materi dapat diminimalisir.

Dan semua ini hanya dapat dicapai melalui “investasi besar pada personel, pelatihan, akreditasi, peralatan, infrastruktur dan yang paling penting, kebijakan dan prosedur,” kata Gershon.